"Sekarang aku single mom," begitulah balasannya tanpa aku tanya apapun. Terkejut, aku mengirim pesan dengan jujur bahwa aku tidak tahu harus merespon apa. Dia adalah mantan istri mantan sahabatku.
Aku memang sudah putus hubungan dengan sahabat cowok itu karena komitmen dengan suami. Aku dan sahabatku dulu terlalu dekat. Hubungan kami hampir tanpa batas, antara dua orang yang bersahabat atau dua orang yang jatuh cinta.
Saat itu, sebenarnya aku terang-terangan pacaran dengan orang lain. Sahabatku ini justru tempat curhat sekaligus informanku soal pacarku karena mereka satu jurusan. Anehnya, sahabatku ini banyak bercerita tentang sisi jelek pacarku dari banyak teman yang dia kenal. Saat aku bercerita kepadanya bahwa aku akan menuju ke hubungan yang serius dengan pacarku, dia berharap aku berubah pikiran.
Mendekati akhir masa studiku di kampus, aku mulai menjalani hubungan jarak jauh dengan pacarku yang sudah bekerja di kota lain. Ia semakin jarang menghubungiku, apalagi mengutarakan niat untuk melamarku. Aku mulai merasa hubungan kami seperti digantung.
Di saat itulah, aku menghubungi suamiku yang sama-sama masih berada di kampus untuk keperluan mencari dana student exchange. Tanpa disangka, dia malah tertarik kepadaku. Ia langsung menghubungi sahabatku untuk mengorek informasi tentangku.
Sahabatku yang entah kenapa begitu jengah melihat hubunganku dengan pacarku, mendukung suamiku untuk mendekatiku. Dalam waktu sebulan saja, suamiku merasa cukup mengetahui tentangku dan memberanikan diri untuk mengajukan lamaran.
Aku yang sudah lelah menanti akhirnya menyadari ini saatnya aku membuat keputusan yang tegas. Aku mengizinkan suamiku untuk bertemu dengan orang tuaku. Tanpa kusangka, di pertemuan pertama itu, suamiku langsung mengajakku menikah.
Sebagai pihak yang membantu mempersatukan aku dan suami, aku sangat menghargai usaha sahabatku. Aku jadi merasa berhutang budi untuk mencegah ia dari hubungan yang kurang baik dengan pacarnya.
Aku tidak mengenal langsung pacarnya secara personal, hanya dari cerita sahabatku. Namun, suatu saat, pacarnya pernah memergoki sahabatku lagi membalas pesanku. Dia marah hingga menulis status di Facebook.
Protes, aku meminta sahabatku meluruskan perkara ini. Bukannya ia berusaha membujuk pacarnya, ia malah membiarkan pacarnya marah hingga reda dengan sendirinya. Aku pikir, sahabatku ini sabar sekali menghadapi sikap pacarnya yang belum dewasa.
Mereka akhirnya menikah setahun setelah aku dan suamiku menikah. Aku akhirnya punya kesempatan berbincang melalui Whatsapp dengan istrinya karena kami berada dalam satu grup. Aku jadi tahu beberapa keluhan yang dia alami selama tinggal di rumah mertuanya.
Beberapa bulan tidak terdengar kabarnya, tiba-tiba beberapa waktu lalu aku melihat perubahan signifikan dari akun Instagram istri sahabatku. Mulai dari banyaknya foto wajah yang biasanya disembunyikan, kalimat yang menyiratkan perpisahan, hingga tanda-tanda ia sudah kembali ke rumah orang tuanya.
Rasa penasaranku meluap hingga aku beranikan diri bertanya hal-hal yang awalnya tidak mengarah ke sana. Aku hanya bertanya soal akunnya yang kembali aktif hingga ia bercerita punya dua akun. Akun keduanya untuk mengikuti akun jobseeker.
Awalnya, aku hanya bertanya apakah ia sedang mencari kerja. Dia kemudian membalas, "Iya, sekarang aku single mom." Mendadak pernyataan ini membuatku merasa lemas.
Ternyata, cinta bisa berubah seperti aku yang tidak bisa mempertahankan hubungan dengan mantan pacarku karena ia tidak memberikan kejelasan masa depan. Cinta di antara sahabatku dan mantan istrinya pun berubah, terlepas masalah apa yang berusaha menggoyahkan rumah tangga mereka.
Aku berharap, semoga ke depannya mereka mendapatkan hal-hal terbaik dalam kehidupannya masing-masing.
Komentar
Posting Komentar