Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Mamah Gajah Bercerita

Penyesalan di Pasar Seni

  Ini foto profil Github milik suamiku. Sewaktu menyelesaikan thesisnya dulu, ia sering membuka  repository  Github-nya saat bekerja dari rumah. Setiap kali aku melihat halaman Github-nya terbuka di monitor, selalu ada perasaan aneh yang menyelinap ke dalam dadaku. Foto itu mengingatkanku pada penyesalan yang masih mengganjal. Foto ini diambil di selasar Campus Center pada even Pasar Seni ITB 2014. Acara yang digelar saat aku duduk di tingkat tiga ini merupakan acara kampus paling meriah yang pernah aku kunjungi. Hampir di seluruh sudut kampus terdapat hal menarik yang bisa aku lihat. Hari itu, aku mengunjugi Pasar Seni tidak sendirian. Aku bersama seorang "teman" lelaki yang sudah setahun hampir selalu pergi bersamaku ke mana pun aku pergi. Belum lama kami bahkan menyepakati panggilan sayang. Aku memanggilnya dengan panggilan "Kak" dan dia memanggilku dengan panggilan "Dik" meskipun kami sebetulnya seumuran. Aku, lelaki ini, dan suamiku sama-sama mahasisw...

Ketika Siang Hari Begitu Panjang

Memasuki musim panas, kehidupanku seperti memasuki babak baru. Waktu siang selama 15 jam dan anak pertama libur sekolah hingga sebulan ke depan adalah kombinasi sempurna yang menghabiskan energi harianku.  Supaya energi dan kewarasanku tidak cepat habis, aku menerapkan strategi tidur pagi. Aku bangun jam lima pagi untuk salat dan mengajak anak pertamaku salat. Tidak lama setelah kami salat, matahari mulai terbit. Namun, kami memilih kembali naik ke kasur dan meringkuk di selimut berbulu tebal kesukaan kami. Pasalnya, suhu udara pagi hanya berkisar di 15°C. Tentu saja, ini situasi yang sempurna untuk tidur, mumpung anak keduaku belum bangun.  Sekitar jam sembilan pagi, anak keduaku bangun dan menuju ke kamar mandi. Inilah waktu sebenarnya permulaan hariku. Aku tak punya pilihan selain menuju ke dapur untuk membuat sarapan untuk anak-anak dan bekal yang akan dibawa suamiku ke kantor.  Pukul 10:30 pagi suamiku berangkat kerja sedangkan anak-anak sudah selesai sarapan. Mereka...

Rasa Ini

Kau telah pergi  Tinggalkan aku dalam perih Mimpi-mimpi yang tak mungkin kembali  Saat kau dan aku saling memiliki Rasa ini tak mungkin  Bisa kuungkap lagi Berakhir rasa yang kumiliki Satu cinta aku Lagu ini dirilis saat aku duduk di kelas 1 SMP. Setelah mendengar lagu ini, aku terinspirasi untuk menulis cerita. Dengan judul yang sama, kisah dimulai dengan persahabatan enam anak perempuan di satu kelas. Di kelas itu, ada laki-laki yang menawan dan pintar bernama Rizki. Indri, salah satu dari enam sekawan, menyukai Rizki. Rupanya, Rizki juga menyukai Indri. Belum sampai mereka saling menyatakan cinta, Indri mengalami gejala penyakit serius, yaitu demam tinggi dan sering mimisan. Setelah diperiksa, Indri mengalami penyakit kanker darah stadium lanjut. Hanya dalam waktu satu bulan, tubuh Indri menjadi sangat kurus dan lemah. Karena dokter sudah menyerah, Indri dirawat di rumah. Setiap pulang sekolah, kelima teman Indri dan Rizki menjenguknya. Suatu hari, kondisi Indri kritis...

Rise (Episode Sandwich Tempe)

Betulan! Hidup kami baik-baik saja. "Iya, Ma. Nanti Mira usahakan. Assalamu'alaikum." Mira menutup telpon sambil menghela napas panjang. "Kenapa, Ma? Wajahnya kayak gagang sate dibalik," seloroh Rizki sambil beringsut dan duduk di sebelah Mira. "Hah? Maksudnya gagang sate dibalik?" "Tusuk. Dibalik. Jadi? Kku?" Rizki menaikkan alis. "Kkuusu .... Yaelah, bisa aje lu, Tong!" Mira meninju bahu Rizki. Selesai tertawa lepas, Mira kembali memasang wajah sendu. "Opa kamu sakit jantung. Udah seminggu dirawat di rumah sakit. Mama disuruh kirim uang," keluh Mira. "Lah, Opa bukannya punya banyak uang?" tanya Rizki bingung. "Iya, konsepnya harusnya gitu! Merintis karir di satu kantor BUMN selama 20 tahun lebih terus pas pensiun dapet pesangon. Tabungan pernah milyaran. Deposito juga ada harusnya. Pernah punya sekian rumah dan sekian mobil. Dulu, Mama pingin S2 aja gak mau bayarin, gara-gara Opa kamu pingin nyimpen uang b...

Rise (Episode Bubur Candil)

Kami hidup baik-baik saja, kok! "Mamaaa, habis ini kentangnya diapain?" pekik Rizki. "Diberi perhatian, Nak," balas Mira dengan wajah sok bijak. "Ye, Mama single jadi begitu." Bibir Rizki dibuat monyong. "Oh, terus kamu mau kita ulek kentang ini dengan kekuatan penuh? Ya? Ya?! Nih!" Mira mengambil ulekan dan mulai menumbuk, mengulek, dan menghajar kentang kukus di dalam baskom. "Ma .... Jangaan!" Pyek! Baskom itu bolong. Kedua ibu dan anak itu saling pandang. "Kapan jadinya ini bubur candil?" batin Zidan, adik Rizki, yang sedari tadi memperhatikan kelakuan kakak dan ibunya dari balik tembok. Zidan membereskan hasil kekacauan yang dibuat kakak dan ibunya sedangkan Mira kini mengulen adonan kentang kukus. "Ambilin tepung tapioka, Ki," pinta Mira. Rizki berjalan ke lemari penyimpanan. Ketika ia membuka pintunya, ia tercengang. " Ebuset , semuanya jar kaca isinya serbuk putih semua?! Mana yang tepung tapioka?...

Pindangku Bukan Pindangmu

Bungkusan kertas minyak berwarna coklat di hadapanku tujuh tahun lalu itu membuatku mengernyitkan dahi. Ibu mertua bilang ini pindang. Anehnya, isi bungkusan itu adalah nasi lengkap dengan sejumlah lauk pauk berbahan dasar daging. Setelah dua puluh tahun tinggal di Bandung, hanya satu pindang yang aku tahu, yaitu ikan yang digarami lalu dimasak (bisa direbus atau diasap). Mamaku biasa membeli ikan pindang dari seorang ibu yang menjajakan dagangannya dengan berjalan kaki keliling komplek sambil memanggul keranjang anyaman bambu. Penjual itu berhenti di depan rumah lalu Mama memilih beberapa potong ikan pindang tongkol. Ikan itu biasanya Mama goreng dan disajikan dengan sambal. Sumber: https://www.blibli.com/p/ikan-pindang-tongkol-segar-isi-2-pc/ps--PAB-70112-00742 Ternyata masyarakat Trenggalek punya konsep berbeda soal pindang. Pindang di sini adalah daging sapi yang dimasak berkuah coklat agak kehitaman dengan cabai rawit yang mengapung di dalamnya. Rasa kuah pindang sapi sekilas ...

Kajian Sambal Tempe Edisi Ramadan

Apakah Mamah perlu rekomendasi makanan sahur bergizi yang bisa melancarkan ibadah? Kalau iya, aku sarankan masak sambal tempe. Pasalnya, panganan ini dijamin bisa membuat bangun sahur lebih mudah serta bebas lapar dan haus seharian. Resep Sambal Tempe Mamah hanya memerlukan sepertiga papan tempe, satu buah tomat, tiga siung bawang merah, enam siung bawang putih, dan sejumlah cabai sesuai selera. Tomat, bawang merah, bawang putih dan cabai digoreng hingga empuk lalu diulek hingga halus. Tempe diiris agak tipis lalu digoreng hingga pinggirnya cukup kering. Tempe yang sudah digoreng langsung diulek bersama sambal. Mamah tinggal menambahkan garam, gula, dan penyedap. Mudah, bukan? Manfaat Sambal Tempe 1. Mengurangi Rasa Lapar Bahan makanan berupa fermentasi kacang kedelai ini bisa disebut sebagai superfood karena memiliki sejumlah vitamin, mineral, antioksidan, hingga protein yang tinggi serta asam amino yang lengkap. Selain berfungsi memperbaiki jaringan tubuh yang rusak, makanan berprot...

Aku Pernah Benci Tempe

Ada satu masa dalam hidupku ketika aku begitu jijik melihat tempe. Ada satu kejadian tak termaafkan yang aku alami berkaitan dengan tempe. Waktu itu usiaku sekitar 12 tahun. Keluargaku baru pulang dari Cepu, Jawa Timur setelah menjemput nenekku yang ingin menginap di rumah kami di Bandung. Malam itu kami mampir ke sebuah restoran sunda. Kami memesan berbagai masakan, seperti nasi timbel, ikan goreng, ayam goreng, tempe mendoan, lengkap dengan sambal dan lalapan. Sepiring nasi timbel sampai di depanku. Buru-buru aku buka bungkusan nasi di dalam daun pisang. Aroma uap nasi hangat bercampur wangi daun pisang menguar di udara. Jemariku mengerucutkan nasi dan memasukkannya ke mulut beserta satu suwiran ayam. Melihat Mama yang asyik makan dengan mencolekkan potongan ikan goreng ke sambal, aku terdorong untuk mengikutinya. Kali ini suwiran ayam itu aku cocolkan ke sambal sebelum aku lahap dengan nasi. Sambil mengunyah, aku mulai menyusun strategi makanan mana selanjutnya yang aku santap dari ...

Hobi-hobi yang Datang dan Pergi

Dulu aku kira, hobi pasti dijalani seseorang seumur hidup. Maksudku, kalau memang suka dengan kegiatan itu dan merasa rileks setelah menjalankannya, mengapa berhenti? Kini aku tahu alasannya. Menulis di Belakang Buku Tulis Kira-kira ada tidak ya, siswa yang tidak pernah merasa bosan menyimak guru mengajar? Aku sih sering. Kalau sudah bosan, biasanya aku membuka halaman terakhir buku tulisku. Di sana aku menuangkan imajinasiku dalam bentuk tulisan. Jadi, meskipun aku sebetulnya tidak lagi memperhatikan penjelasan guru, aku tetap terlihat sedang belajar. Ada kalanya, aku ingin tulisanku bisa disimpan dalam satu map. Oleh karena itu, aku menarik dua lembar kertas dari bagian tengah buku tulis. Aku tuliskan kisah pertemananku bersama gengku yang tidak berjalan mulus. Pasalnya, salah satu teman kami meninggal akibat penyakit kanker darah. Lalu, sisa anggota geng berebut seorang cowok idaman di kelas. Kisah cengeng itu seharusnya masih aku simpan di dalam map di rumah mertuaku. Hobi itu sud...

Tiga Bulan Lagi

Apa yang akan terjadi padaku di masa depan? Ah, untuk sekarang pikiranku tidak bisa pergi lebih jauh dari tiga bulan mendatang. Ada hal besar yang butuh banyak persiapan sedang memenuhi otakku. Suamiku akan kerja di Bellevue, 3312 km dari Chicago. Secara jarak, biasa saja. Toh kami pernah naik pesawat mengitari setengah bumi untuk sampai ke sini. Masalahnya, dulu kami hanya pergi bertiga, dengan bayi. Sebelum pindah, ke Bellevue, suami harus mengurus kelulusan dulu, juga izin tinggal kami sekeluarga. Mencari apartemen dan mengurus kepindahan sekolah anak pertama. Mengubah informasi alamat di bank, tagihan telpon, pajak, dan lain sebagainya. Belum termasuk memilih barang apa yang dibawa dan pindah ke sana dengan jalur darat atau naik pesawat. Banyak sekali hal yang harus dipikirkan. Persoalan menentukan barang apa yang mau dibawa saja sudah memicu satu konflik. Aku ingin bawa sebagian besar peralatan dapur, sedangkan suami hanya ingin membawa alat elektronik beserta barang mahal lainnya...

Peranku

Nafasku jadi pendek-pendek. Air mata pertama mengalir di pipiku. Segera kututup mulutku dengan kedua tangan untuk meredam isakan padahal aku sendirian di ruangan tertutup seluas 3 x 4 m2 ini. Hanya jejeran lemari laci dan printer yang menyaksikan tangisku.  eojjeom uriga heeojyeossneunji (Arti: Bagaimana dulu kita putus?) - Even If One Day, Lyn Lyn, itu pertanyaan yang sangat cocok ditanyakan pada tengah malam saat aku sendirian di ruang printer kampus. Kita putus karena aku memilih untuk menikah dengan pria yang sekarang jadi suamiku. Lagu ini membantuku mengingat kembali segala pertimbangan memilih lelaki ini, bukan pacarku waktu itu. Namun, apakah dulu aku sudah membayangkan sejauh ini? Misalnya, bahwa suamiku mungkin memintaku pergi sendirian ke kampus, tengah malam, untuk membantunya mencetak hampir seratus paper , buat bahan disertasinya? Belum lagi, printer ini menguji kesabaranku. Tidak bisa terhubung ke laptop , lah. Tersangkutnya kertas pada proses printing , lah. Semu...

Perantara

Tahun 2012. Piano itu menjadi saksi. Jemari lelaki di sampingku saat itu menari indah di atas tutsnya. Kami sama-sama bukan mahasiswa SBM, tapi kami cukup sering menggunakan piano di sini. Ini caraku healing . Rasa lelah ketika duduk di bangku kelas mendadak sirna saat duduk di kursi piano itu. Aku menyukai lelaki ini. Inginku berharap kami bisa jadi lebih dari sekedar teman. Lagipula, perhatian yang ia berikan ... berbeda. Maksudku, siapa lagi temanku yang akan menyuruhku berhenti pakai baju warna gelap karena aku keliatan suram? Siapa lagi temanku yang akan memastikan aku tidak memesan makanan pedas ketika ke kantin? Dia tahu, aku penderita mag akut dengan sejumlah pantangan makanan. Kami pernah terlibat dalam tugas kelompok RBL Fisika. Tugasnya remeh, membuat balon terbang, tapi sialnya, susah banget. Lima prototype berlalu, balon terbang kami belum juga terbang. Seminggu sebelum deadline , salah satu teman kami berinisiatif membeli balon terbang di Gasibu dan membuat tiruannya. Ke...

Tiga Macam Roll

Apakah kamu tahu makanan satu ini? Jika aku beri tiga pilihan: egg roll , spring roll, dan summer roll , mana nama yang tepat untuk makanan di bawah ini? Sumber: shutterstock.com Jawaban yang benar adalah spring roll . Lalu, apa bedanya dengan egg roll dan summer roll ? Apa Itu Spring Roll ? Spring roll adalah salah satu kudapan yang terbuat dari isian sayur (tauge atau kubis) dan protein hewani (daging atau udang) yang dibalut kulit tipis. Kulit ini terbuat dari tepung terigu dan air. Spring roll disajikan setelah digoreng hingga kuning keemasan. Karena kulitnya yang tipis, makan ini sangat renyah bahkan kulitnya mudah hancur ketika digigit. Kalau di Indonesia, kulit spring roll mirip dengan kulit lumpia atau pisang aroma.  Apa Perbedaan Spring Roll dengan Egg Roll ? Sumber: shutterstock.com Egg roll dibuat dengan isian dan cara yang serupa dengan spring roll . Kalau kamu melihat gambar di atas, bisakah menemukan perbedaan spring roll dengan egg roll ? Ya, kulitnya tampak te...

Perasaanku terhadap Idola

Aku berdiri mematung di depan kelas. Berusaha mencari jawaban, aku mencoba mengingat semua nama aktris, aktor, penyanyi, hingga komedian yang pernah aku lihat di televisi. Tidak ada satupun yang terasa spesial di hatiku. " I don't have ," jawabku polos. Lucunya, guru pembimbing ekskul bahasa Inggris yang sedang mewawancaraiku justru mencoba menggali jawaban lebih dalam dengan menyebutkan beberapa nama artis yang tengah naik daun. Mendengar nama-nama itu, aku bisa mengingat wajahnya tapi aku tidak punya ketertarikan. Tidak ada penyanyi atau aktor favorit bagiku. Saat duduk di bangku SMP, aku memang merasa berbeda dari teman-teman seusiaku. Kebanyakan dari mereka memiliki idola. Ada saja yang mengumpulkan berbagai pernak-pernik bergambar idola mereka hingga menulis dan menghafalkan lirik lagu yang dinyanyikannya. Aku pun menyaksikan betapa hebohnya mereka ketika mengetahui idola mereka akan menggelar konser. Belum lagi ketika ada berita besar menyangkut idola mereka. Tema...

Cinta yang Berubah

"Sekarang aku single mom ," begitulah balasannya tanpa aku tanya apapun. Terkejut, aku mengirim pesan dengan jujur bahwa aku tidak tahu harus merespon apa. Dia adalah mantan istri mantan sahabatku.  Aku memang sudah putus hubungan dengan sahabat cowok itu karena komitmen dengan suami. Aku dan sahabatku dulu terlalu dekat. Hubungan kami hampir tanpa batas, antara dua orang yang bersahabat atau dua orang yang jatuh cinta. Saat itu, sebenarnya aku terang-terangan pacaran dengan orang lain. Sahabatku ini justru tempat curhat sekaligus informanku soal pacarku karena mereka satu jurusan. Anehnya, sahabatku ini banyak bercerita tentang sisi jelek pacarku dari banyak teman yang dia kenal. Saat aku bercerita kepadanya bahwa aku akan menuju ke hubungan yang serius dengan pacarku, dia berharap aku berubah pikiran. Mendekati akhir masa studiku di kampus, aku mulai menjalani hubungan jarak jauh dengan pacarku yang sudah bekerja di kota lain. Ia semakin jarang menghubungiku, apalagi mengu...

Belajar Mengikhlaskan

Akhir-akhir ini ada beberapa kejadian yang membuatku belajar untuk mengikhlaskan dalam tingkatan dan lingkup yang berbeda. Ada kejadian yang membuatku ikhlas cukup dalam waktu singkat, ada pula yang perlu waktu agak lama. Pertama, akhir bulan Juli lalu, aku baru jatuh dari sepeda. Aku baru tahu, jatuh dari sepeda lebih menyiksa dibanding melahirkan karena aku tidak bisa memprediksi tingkat rasa sakitnya dan berapa lama waktu yang diperlukan tubuhku untuk kembali pulih. Cerita lengkap soal ini aku tulis di blog yang lain. Waktu jatuh, wajah bagian kananku menghantam aspal. Setidaknya selama dua minggu aku mengalami sakit kepala secara terus-menerus yang kadang harus aku tangani dengan mengonsumsi ibuprofen. Sesaat setelah jatuh, suamiku bilang, sekarang saatnya aku istirahat selama seminggu ke depan. Sejujurnya, sebelum aku jatuh, aku sudah sering merasa lelah dengan rutinitas sebagai ibu rumah tangga. Istirahat seminggu bagaikan angin segar bagiku. Namun, ternyata tidak sepenuhnya se...

Kekuatan Buku Biru

Mira adalah anak yang pemalu dan tertutup. Meskipun baru duduk di tingkat menengah pertama, ia sudah memilih teman dekat secara teliti. Persis, ia hanya punya dua teman.  Sayangnya, Papa Mira harus pindah kerja ke luar kota. Mira sudah memohon sekuat tenaga supaya ia bisa tetap tinggal di kotanya bersama neneknya yang tinggal agak jauh dari sekolahnya. Namun, orang tua Mira bersikeras ia juga harus ikut pindah.  Mama Mira paham dengan kekhawatiran putrinya. Ia pun berjanji akan memberikan sebuah hal istimewa pada hari pertama sekolahnya. Betul saja, pagi harinya, Mira menemukan sebuah buku binder bersampul biru muda. Ketika ia membuka sampul buku itu, ia menemukan sebuah catatan.  Mira membolak-balik buku itu. Di dalamnya berisi belasan kertas tersegel, mirip seperti surat berisi PIN ATM bank yang harus disobek bagian pinggirnya supaya isinya bisa dibaca.  Hari pertama sekolah sudah berakhir. Mira merasa lebih bersemangat untuk pulang ke rumah daripada berangkat sek...

Tiga Pelajaran Kehidupan

Dua puluh dua tahun aku selalu tinggal serumah dengan orangtua. Ketika suami datang melamar, ia memang sudah menyampaikan rencananya untuk sekolah di luar negri. Saat itu, aku masih sesumbar, merasa percaya diri bahwa aku bisa hidup di luar negri tanpa kendala.  Nyatanya, tinggal di luar negri tanpa sanak saudara tidaklah mudah, apalagi aku belum pernah punya pengalaman tinggal terpisah dari orang tua. Ditambah, setahun setelah tinggal di luar negri, lahirlah anak kedua tanpa didampingi sanak saudara ataupun orangtua. Setelah tiga tahun tinggal di luar negri dengan segala dinamikanya, aku menyadari ada tiga pelajaran kehidupan penting yang aku dapatkan. 1.  Meluasnya arti saudara Dulu, aku menganggap saudara hanyalah orang-orang yang punya hubungan darah dengan orangtuaku. Ketika aku datang ke sini tanpa sanak saudara, nyatanya ada beberapa orang yang begitu dekatnya dengan keluargaku hingga layak untuk dianggap sebagai saudara.  Contohnya, keluarga Pak Agus. Mereka san...

Rindu Tiada Tara

Aku menghempaskan badan ke kasur. Lelah rasanya setiap Lebaran harus berjumpa dengan tante itu. Aku diinterogasi seperti seorang penjahat. Aku yakin sekali, Tante Rima pasti sudah menyiapkan teks pertanyaan sebelum datang ke kumpul keluarga. Seandainya itu adalah riset, hasil wawancaranya setara dengan satu skripsi.  Meskipun kuakui Tante Rima cukup solutif. Ketika ia bertanya kapan aku lulus kuliah dan kujawab masih menyusun skripsi, ia menawarkan bantuan apapun untuk mempercepat pembuatan skripsi. Aku jadi penasaran, jangan-jangan Tante Rima punya bisnis jualan skripsi.  Lain waktu, saat ia bertanya apa aku sudah dapat pekerjaan dan kujawab masih melamar, ia menawarkan untuk bekerja di perusahaan sahabatnya. Masalahnya, aku ini lulusan farmasi. Masa aku ditawari bekerja di perusahaan travel agent ?  Ada satu kejadian yang sangat membuatku kesal. Dengan santainya ia membawa seorang lelaki, anak sahabatnya, untuk diperkenalkan kepadaku saat kumpul keluarga! Hari itu aku ...

Ketika Hariku Dikuasa Olehnya

Hari ini aku punya banyak agenda. Mulai dari mengirim dokumen pajak, mengajak anak ke tempat main, hingga masak makanan untuk dibawa ke rumah teman.  Jam 9.40 aku membawa kedua anakku keluar apartemen. Kami bertiga jalan kaki sejauh 400m. Aku cukup percaya diri, anakku yang berusia 1,5 tahun pasti merasa senang diajak berjalan kaki.  Sesampainya di kantor pos, USPS namanya, aku mengambil amplop dan mengisi alamat tujuan pengiriman dokumen pajak. Lalu aku mengantre. Sesampainya di depan kasir, aku dibuat kesal.  Aku ingin membayar biaya pengiriman dengan kartu kredit. Aku diminta menunjukkan kartu identitas yang tidak aku bawa. Aku meminta keringanan menunjukkan kartu dalam bentuk foto. Ternyata, kartu yang diminta harus dalam bentuk fisik.  Dengan terburu-buru aku meminta anak pertamaku yang berusia 3,5 tahun untuk lari sedang aku menggendong bayiku.  Kembali ke apartemen, aku mengambil semua jenis kartu. Aku juga membawa wagon , sejenis stroller tapi berukuran...